Isi formulir ini
dan klaim hak anda
sebagai penerus Sin Lam Ba

Dari (email) 
Subject 
Nama 
Provinsi / Negara 
Nama Perawat 
No. Telp. Perawat 
Masukkan captcha vloqgsvz 
    

Situs ini tidak menerima anggota secara online. Kami akan mem-verifikasi keberadaan anda kepada perawat anda. Pastikan anda memberikan informasi yang benar perihal perawat anda. Proses ini akan berlangsung sedikit lama, tetapi kami akan segera men-konfirmasi apapun hasilnya kepada anda melalui email.

Murotal

Login Pengguna

Pengunjung

Hari Ini138
Total116960

IP Anda 54.197.74.130
Unknown ? Unknown Tue 16 Sep 2014 16:23

Siapa Online

None

Calendar

Sejarah Sin Lam Ba

Silat Sin Lam Ba yang kita ketahui sekarang ini memiliki akar budaya yang dimulai semenjak lebih dari seratus tahun yang lalu. Pada bagian ini, kami akan memperkenalkan anda pada perjalanan perguruan silat Sin Lam Ba. Dimulai dengan para tokoh pendirinya.

 

Pendiri Sin Lam Ba


H. Oddo bin Syekh Abdul Karim Banten

Sejarah Ilmu Sin Lam Ba berasal dari H. Oddo bin Syekh Abdul Karim Banten. Ayah dari H. Oddo yaitu Syekh Abdul Karim Banten merupakan tokoh tarekat Qadiriyyah yang terkenal di Asia Tenggara di akhir abad 19 (juga merupakan salah satu Imam Masjid di Mekkah, berdasarkan keterangan keluarga beliau). Setelah pecahnya perang Banten yang kemudian berhasil dimenangkan oleh Belanda pada tahun 1888, putra-putra beliau menyingkir ke pedalaman Kerawang Utara (tujuan pertamanya ingin ke Sultan Agung di Demak. Dikarenakan suatu hal mereka terdampar di daerah Karawang Pantai Pakis Kertajaya) sekitar 15 km Timur Laut Rengas Dengklok dan mendirikan sebuah pesantren.

 

Rombongan ini dipimpin oleh putra beliau yang kemudian di kenal dengan nama H. Oddo bin Syekh Abdul Karim Banten (beliau wafat sekitar tahun 1939-an dalam usia hampir 100 tahun) yang kemudian memberikan pengajaran Ilmu Hikmah kepada Pak Toha bin Sieng dari Betawi (Tebet-Menteng Dalam) dan kemudian dilanjutkan kepada para murid dari Pak Toha, salah satu muridnya adalah Alm. H. Harun Achmad.

 

H. Toha bin Sieng

H. Toha Bin Sieng
H. Toha Bin Sieng

 

Pak Toha bin Sieng yang lahir pada tanggal 15 Agustus 1889 dan wafat pada tanggal 8 Desember 1957, semasa hidupnya pernah bekerja sebagai opsir Belanda hingga kemudian ia melakukan desersi. Sebelum H. Toha bin Sieng berniat mencari ilmu, beliau sudah dikenal sebagai jawara pendekar yang disegani oleh masyarakat Betawi. H. Toha bin Sieng kemudian pergi mencari ilmu Hikmah (sekitar tahun 1934) ke daerah Kulon (Banten). Ditengah perjalanan beliau di dalam kereta api, Pak Toha bin Sieng bertemu dengan seorang kakek-kakek/sosok orang tua, dia menyuruh Pak Toha untuk pergi ke daerah Wetan (Karawang). Konon setelah memberitahu kepada Pak Toha, kakek-kakek/orang tua tersebut menghilang tidak diketemukan lagi saat dilihat pada ditempatnya. Akhirnya Pak Toha bin Sieng menuruti nasehat orang tua tersebut untuk pergi berbalik arah menuju Kerawang.

Perjalanan H. Toha bin Sieng menuju Kerawang berujung ke suatu tempat yang ternyata merupakan pesantren milik Bapak H. Oddo bin Syekh Abdul Karim Banten. H. Toha bin Sieng mengungkapkan niatnya kepada H. Oddo bin Syekh Abdul Karim Banten untuk menuntut Ilmu Hikmah, karena beliau merasa secara ilmu kependekaran merasa sudah cukup. Mengingat status pendekar yang dikenakan di dunia persilatan pada masa itu (pendekar Toha dari Betawi).

 

Singkat cerita di pesantren tersebut Pak Toha bin Sieng tidak langsung diberi ilmu Hikmah, melainkan beliau diberi tugas sebagai Marbot (penjaga masjid), yang bertugas untuk membersihkan masjid dan mengisi air untuk berwudhu. Setelah 2 tahun 10 bulan (Dua Tahun Sepuluh Bulan) berselang, barulah. H. Oddo bin Syekh Abdul Karim Banten mengijinkan Pak Toha bin Sieng (dan enam putra H. Oddo bin Syekh Abdul Karim Banten) untuk menerima ilmu. Masing masing mereka diberikan kesempatan untuk memilih satu manuskrip/kitab (yang berupa seperti gulungan rokok kaung) yang terletak di langit-langit masjid. Dikisahkan kepada para murid beliau, bahwa kejadian ini berlangsung pada waktu malam Jum’at bertepatan dengan Nisfu syah’ban menjelang bulan Ramadhan.

 

Masing-masing murid mendapatkan ilmu yang berbeda, untuk Pak Toha bin Sieng, gulungannya bertuliskan huruf arab gundul yang jika diartikan berbunyi “Intisari dari ilmu keberkahan dunia dan akhirat dan “ilmu yang bekerja jika dizalimi orang lain“.

Kemudian H. Oddo bin Syekh Abdul Karim Banten memberikan wejangan dan amalan (Zikir) kepada Pak Toha bin Sieng.

 

Setelah selama 2 tahun 10 bulan (dua tahun sepuluh bulan) meninggalkan Betawi, Pak Toha bin Sieng memutuskan kembali ke Tebet sekitar tahun 1937. Kehadirannya di Tebet mengagetkan keluarganya karena mereka mengira Pak Toha bin Sieng telah meninggal.

 

Setelah itu Pak Toha bin Sieng bertemu dengan adiknya yang sudah lama mencarinya. Adiknya yang juga seorang jawara, penasaran akan ilmu yang didapat oleh kakaknya itu. Setelah menceritakan tentang ilmu yang didapat dari H. Oddo bin Syekh Abdul Karim Banten. Pak Toha bin Sieng masih belum bisa mengerti atau memahami fungsi dan kegunaan ilmu tersebut. Sang adik pun disuruh oleh Pak Toha bin Sieng untuk menyerang dirinya dari dapur (serangan pukulan jarak jauh-posisi Pak Toha saat itu berada di ruang tamu/di bagian depan rumah). Yang terjadi kemudian adalah Pak Toha bin Sieng terkejut mendengar suara gaduh dari arah dapur. Saat ia tiba di dapur, dilihatnya sang adik menggelepar seperti ayam terpotong (dekat tungku). Dengan kebingungan Pak Toha bin Sieng berusaha menyembuhkan sang adik secara spontan dengan menyebut kalimat Basmallah, Istighfar dan Takbir, kemudian mengusapkan (dikebet) tangannya ke tubuh adiknya itu. Setelah itu adiknya kembali sadar seperti semula.

 

Dari peristiwa itu Pak Toha bin Sieng baru menyadari salah satu manfaat ilmu yang didapat dari H.Oddo bin Syekh Abdul Karim Banten. Setelah itu barulah Pak Toha bin Sieng mengajarkan dan mengembangkan jurus silat tangan kosong dan jurus golok muka dua (atau biasa dikenal dengan jurus Pak Toha, sekitar tahun 1938-1957). Selain itu Pak Toha juga mengajarkan Ilmu Hikmah (Tenaga Dalam), yang didapatkan dari H. Oddo bin Syekh Abdul Karim.

 

Tak lama berselang dalam tafakur malamnya selama lebih kurang 40 hari, Pak Toha menciptakan sebuah jurus tenaga dalam Ilmu Hikmah. Niat awal diciptakan jurus ini adalah untuk mempersatukan semua murid yang belajar ilmu silat luar (tangan kosong/jurus golok) dengan ilmu tenaga dalam (Ilmu Hikmah) baik dari kalangan keluarga maupun masyarakat umum. Jurus itu dikenal dengan nama Langkah Lima, dan hingga saat ini jurus Langkah Lima dipakai sebagai jurus wajib bagi setiap ikhwan/akhwat (murid-murid) PS. Sin Lam Ba di seluruh pelosok dunia.

 

 

 

Kepemimpinan dalam PS. Sin Lam Ba

 

PS. Sin Lam Ba berdiri dimulai saat Pak Toha bin Sieng mulai membuka pendidikan untuk silat. Berikut ini adalah beberapa periode perjalanan & perkembangan PS. Sin Lam Ba,:

 

1. Periode Kepemimpinan Bapak Moh. Toha bin Sieng.

Pada saat itu Pak Toha belum memberikan nama Sin Lam Ba. Masyarakat umum lebih banyak mengenal ilmu yang diajarkan Pak Toha itu sebagai ilmu kontak, Ilmu Bathin, Ilmu Setrum, Ilmu Lembu Sekilan, Ilmu Jeblak, dan lain –lain.

Sekitar tahun 1952 atas saran adik ipar Pak Toha bin Sieng yaitu H. Harun Achmad bin Achmad (lahir 12 Desember 1923 dan wafat pada tanggal 24 Oktober 1997), beliau berserta murid lainnya mengadakan suatu pertemuan yang berlangsung di Tebet Timur - Jakarta Selatan. Pertemuan itu membahas masalah nama perguruan. Atas saran dari H. Toyib bin Fulan (seorang tokoh ulama dari Tebet Timur/guru mengaji H. Harun Achmad bin Achmad), maka terbentuklah suatu nama perguruan yaitu “Sin Lam Ba” (Saudara Lahir Batin). Semenjak itu meluaslah nama Sin Lam Ba ke setiap daerah Nusantara, termasuk dikalangan warga keturunan Cina di daerah Kota, Golodok - Jakarta. Dan semenjak itu pula kalangan perguruan silat Tenaga Dalam mengakui bahwa Sin Lam Ba merupakan perguruan Tenaga Dalam tertua di Betawi (Jakarta).

 

Sebagai perguruan Tenaga Dalam yang tertua, maka wajar jika Sin Lam Ba dapat disebut sebagai sumber inpirasi dari perguruan-perguruan Tenaga Dalam yang berkibar setelah era 1950-an. Salah satu perguruan Tenaga Dalam (Ilmu Hikmah) yang masih dibawah garis keilmuan/kepewarisan dengan Sin Lam Ba yaitu perguruan “Al-Hikmah“ yang didirikan oleh H. Syaki Abdul Syukur/Abah Syaki/Ki Syaki dari Cisoka. Abah Syaki mendapat ilmu dari H. Iri. H. Iri sendiri merupakan salah satu murid dari Pak Toha bin Sieng. (bisa dibilang H. Iri adalah murid generasi ke-III pak Toha). Jadi, Abah Syaki/Ki Syaki TIDAK BEAJAR LANGSUNG dengan Pa Toha bin Sieng. (sebagaimana yang dijelaskan oleh H. Abdul Rauf Achmad sebagai adik ipar sekaligus assistennya Pak Toha bin Sieng kemanapun Pak Toha mengajar silat di Jakarta-Bogor-Bekasi dan sekitarnya).


Ini juga sekaligus men-klarifikasi berita bahwa di daerah Kebon Baru - Tebet Jak-Sel, ada orang yang bernama Toha juga namun bukan Toha bin Sieng. Pak Toha  Kebon Baru memang benar belajar ilmu ini dari seorang guru Al Hikmah sehingga ada kerancuan dikalangan masyarakat dunia persilatan bahwa Pak Toha bin Sieng (Moh Toha bin Sieng) belajar Al Hikmah atw PS. Sin Lam Ba bersumber dari Perguruan Al Hikmah, itu SALAH.


Pada zaman Pak Toha bin Sieng, perkembangan perguruan Saudara Lahir Batin (Sin Lam Ba) waktu itu sangat luas sehingga tidak menutup kemungkinan adanya anggota2 yg benar2 ingin belajar dan yg ingin tahu saja serta yg punyab misi khusus, seperti menambah bekal ilmu silatnya untuk dikembangkan lagi ditempat ia belajar silat agar lebih lengkap seklain silat fisiknya. Sehingga  pada zaman itu pula ada bebrapa anggota yg mndirikan perguruan sendiri dengan inti pelajaran yang mirip dengan yang diajarkan Pak Toha. Perselisihan ini ada yang bisa diselasaikan secara kekeluargaan namun ada juga yang tidak bisa.

 

Pada zaman kepemimpinan Pak Toha bin Sieng, penerimaan anggota/murid sangat terbuka bagi siapa saja sehingga semakin banyaklah orang-orang yang ingin mempelajari ilmu kontak dari Pak Toha bin Sieng. Sangat terbuka sehingga penerimaan anggota pada saat itu tidak menutup kemungkinan masuknya para pendekar/jawara dan ahli silat dari segala penjuru tanah air berdatangan ingin memperoleh ilmu tersebut. Tidak adanya filter/proteksi pada zaman itu maka tidaklah heran banyak beberapa perguruan silat/pelajaran tenaga dalam sekarang ini yang mirip2 dengan pelajaran PS. Sin Lam Ba saat ini. Ini karena zaman itu Indonesia masih mengalami penjajahan dari Belanda sehingga misi dari alm. Pak Toha bin Sieng adalah memberi bekal tambahan kepada pemuda2/masyarakat dalam berjuang merebut & mempertahankan kemerdekaan.

 

2. Periode Kepemimpinan H. Harun bin Achmad

Sepeninggal Pak Toha (1957) PS. Sin Lam Ba mengalami kemunduran aktifitas masing-masing murid Pak Toha kehilangan orang dituakan. Setelah sekian tahun salah satu keluarga (adik ipar) yang juga merupakan murid Pak Toha Yaitu alm. H. Harun Achmad berhasil memajukan PS. Sin Lam Ba di berbagai daerah nusantara dan juga di beberapa negara seperti Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura dan Jepang. Kemudian atas saran para ulama di Tebet juga nama Sin Lam Ba yang tadinya berarti Saudara Lahir Bathin diperhalus secara Islami dengan Sa'adah (Bahagia), Latifah (Halus/bijaksana) dan Barokah (Berkah). Dengan filosofi yang terkandung di dalamnya adalah rasa kebahagian kita sebagai hamba Allah hendaknya selalu mensyukuri nikmat yang diberikan Allah kepada kita, bukan harta yang membuat kita bahagia karena bila kita mensyukuri nikmat Allah, niscaya Allah akan menambahkan nikmat itu. Serta bersikap halus/lemah lembut dan bijaksana kepada siapa saja baik kawan maupun lawan, Insya Allah kita akan mendapatkan Berkah/serba berkecukupan - tidak sekedar materi tapi keberkahan yang lain yang tidak diduga-duga datangnya.

 

Begitu pesan dan penuturan alm. bpk H. Harun Achmad (alm) kepada setiap anggota PS. Sin Lam Ba. Tradisi peninggalan Pak Toha bin Sieng dalam pensyariatan anggota juga dirubah dari penyediaan makan pisang, biskuit dan susu diganti dengan makan ala prasmanan, seperti makan nasi uduk betawi, semur rendang, semur jengkol, opor, dsb. Hal ini dimaksudkan untuk  menghindari kesalahan persepsi yang berkembang dalam memahami pemberian ilmu tersebut kepada calon anggota sehingga terhindar dari hal-hal yang berbau klenik yang mengarah ke syirik.

 

Demikian pula dengan Amalan-amalan yang diberikan Pak Toha bin Sieng yang kurang Islami (menjurus kearah ke-batinan/ke-Jawen) DIHAPUSKAN oleh alm H. Harun Achmad dan diganti dengan do'a yang bersumber langsung dari Al Qur'an dan Al Hadits dimana setiap do'a dicantumkan Nama Surat dan Ayat Al Qur'an serta sumber Hadits Shahi. Jadi singkatnya Periode alm. H. Harun Achmad sudah ada perbedaan dalam pemberian amalan dengn periode yg diajarkan alm bpk. Moh. Toha bin Sieng.

 

Sifat amalan tersebut adalah sebagai do'a yang dibaca setelah sholat 5 waktu bukan merupakan amalan khusus untuk menambah/memperdalam ilmu tenaga dalam, hanya pesan beliau (alm. H. Harun Achmad) bacalah do'a ini semata-mata ikhlash karena Allah Ta’alla yang Insya Allah ada manfaat & barokahnya (tidak disebutkan manfaat untuk apa), dimana setiap anggota/ikhwan/akhwat PS. Sin Lam Ba akan memperoleh manfaat & barokah dari Allah SWT, yang Insya Allah itu berbeda-beda/ tidak sama. Hal ini tergantung pada amal ibadahnya /ke-taqwaan ikhwan/akhwat masing-masing.

 

Sebagai tambahan informasi terakhir bahwa sejak jaman meninggalnya Pak Toha bin Sieng banyak murid-murid beliau yang putus komunikasi dan sulit dicari keberadaannya. Sehingga ada yang tetap mengembangkan garis keilmuan Sin Lam Ba dengan masih menggunakan nama Sin Lam Ba (saudara lahir batin), tapi ada juga yang sudah mengganti nama perguruannya antara lain seperti : perguruan Al Hikmah, Al Barokah, Al Jabbar, dsb.

 

Konon perguruan silat yang mirip-mirip Sin Lam Ba dalam berlatihnya  menggunakan kedutan PERUT adalah masih dalam garis keilmuan dari Sin Lam Ba itu sendiri walau banyak dari pendiri perguruan tersebut tidak menjelaskan kepada anak/murid dan garis keturunannya tentang asal muasal ilmunya bahkan ada yg mengarang cerita bahwa ilmunya didapat melalui proses semedi/bertapa/melalui wangsit, dsb (seperti yang dikisahkan oleh para sesepuh tenaga dalam).

 

Pada zaman Pak Toha bin Sieng pun ada bebrapa yang mencoba berdiri sendiri dengan mengganti/membuat nama sendiri . Demikian pula pada zaman H. Harun Achmad, ada yang bernama Sin Lam Ba SEJATI (yang keilmuannya juga berasal dari gurunya yang katanya belajar dari Pak Toha bin Sieng). Kemudian juga pada periode garis keilmuan dari alm bpk H. Harun Achmad ada kelompok yang berganti nama yaitu PPS Panca Daya yang dulu adalah Perwakilan/Cabang PS. Sin Lam Ba Depok (pendirinya perawat Sin Lam Ba Depok waktu itu, bpk. Gondo Soewandito yang dulu dikenal dengan 'Tai Chi dari Depok"),  ada juga Perguruan Al Inayah yang dulu adalah PS. Sin Lam Ba Cabang Bogor (pendirinya adalah perawat Sin Lam Ba waktu itu bernama Bpk. Achmad D. Danusaputra di IPB Bogor - terakhir berubah nama menjadi SEROJA PUTIH).

 

Ada juga yang masih menggunakan nama Sin Lam Ba, yaitu : PPS Sin Lam Ba Cilandak, (pendirinya perawat alm. Ibrahim Adi) yang sekarang diteruskan oleh murid2nya yang bertempat tinggal di daerah Bintaro Jaya sektor 4. Ada juga pihak yang mengklaim sebagai perguruan silat Sin Lam Ba (Saudara Lahir Batin) yang beralamat di Jl. Suci (Kramat Jati) - Jakarta Timur ( dengan perawatnya Pak Yaya). Sedangkan di daerah Leuwiliyang-Bogor juga ada yang masih mnggunakan Sin Lam Ba (Saudara Lahir Batin).

 

Seluruh perguruan itu sumber keilmuannya berasal dari Pak Toha bin Sieng, para pendirinya adalah salah seorang murid Pak Toha bin Sieng. Hingga sekarang ini terdapat beberapa tempat di wilayah Nusantara yang memakai nama Sin Lam Ba namun tidak jelas asal usul keilmuannya, apakah berasal  dari garis murid Pak Toha bin Sieng atau dari Pak H. Harun Achmad. Seperti halnya di daerah Sulawesi (Makassar & Gowa), Maluku, Papua, dan Aceh.

 

Masih banyak lagi tokoh-tokoh dunia persilatan baik itu Guru Besar perguruan silat/tokoh pendekar lain/ulama/Kyai yang belajar secara pribadi langsung dengan alm. H. Harun Achmad diantaranya, seperti : Pendiri Karate "Black Panther", dan beberapa pendekar Betawi/beberapa tokoh agama/Birokrat/selebriti yang sebagian besar mereka belajar secara pribadi bukan secara organisasi.

 

Dan untuk sementara ini PS. Sin Lam  Ba ber-Sekretariat Pusat di Jl. Tebet Timur VII i Jakarta Selatan Telp. (021) 830 6129 sedangkan Ketua Dewan Perawat dan Sesepuh PS Sin Lam Ba adalah adik kandung alm H. Harun Achmad yaitu H. Abdul Rauf bin Achmad (Cang Rauf) di daerah Menteng Dalam - Jakarta Selatan dekat TPU Menteng Pulo.

 

 

Silsilah Ilmu Perguruan Sin Lam Ba

Jika dibuat dalam sebuah bagan, maka silsilah keilmuan Perguruan Silat Sin Lam Ba adalah seperti tampak di bawah ini.

 

 

 

Demikianlah untuk sementara sejarah mengenai keberadaan - asal muasal keilmuan khususnya 'Tenaga Dalam' - dari Perguruan Silat Sin Lam Ba yang ada sekarang ini. Kami mohon maaf kiranya penjelasan ini terpaksa kami tampilkan disini agar semua pihak bisa MENGERTI & PAHAM akan sebuah Perjalanan Sejarah dari sebuah nama besar Perguruan Silat Sin Lam Ba, karena baik-buruknya/pahit-manisnya jalannya sebuah sejarah harus disampaikan, tidak boleh ditutup-tutupi dan tidak bisa dipungkiri dan disangkal selama saksi hidup/pelaku sejarah itu masih ada.


Narasumber:

1. Cucu Alm. H. Oddo bin Abdul Karim Banten
2. Alm. Hj. Dawiyah ( istri Alm. Pak Toha ) Bambu Apus Taman Mini-Jakarta Timur
3. Alm. H. Harun Achmad bin Achmad Kebon Baru-Tebet
4. Keluarga Bapak Sarbini Achmad ( Sesepuh Sin Lam Ba Tebet Timur – Jakarta Selatan)
5. H. Abdul Rauf ( Ketua Dewan Sesepuh Sin Lam Ba periode 1999-2003)